Sabtu, 30 November 2013

Blusukan Ke Balai (Agung) Wayang


Kesukaan saya akan sejarah dan keunikan-keunikan Kota Solo membuat saya selalu penasaran dengan tempat-tempat yang belum terjamah dan belum diketahui banyak orang. Hobi blusukan siang itu nampaknya tersalurkan, ketika seorang rekan mengajak saya untuk mengunjungi sebuah makam kuno ditengah pusat perbelanjaan batik di Kota Solo. Ya, makam itu tak lain dan tak bukan adalah makam Raden Pabelan yang terletak begitu sepi dan terpencil dari keramaian mall tekstil Solo itu. Meski agak kecewa karena makam ditutup, dan mengharuskan meminta ijin ke satpam agar dibukakan pintu makam, namun kekecewaan kita terbayar dengan diskusi singkat mengenai tokoh yang dimakamkan di area perbelanjaan itu. Raden Pabelan, putra Tumenggung Mayang, yang hidup di masa kejayaan Keraton Pajang itulah yang menjadi bahan diskusi kita sepanjang perjalanan. Kisah Raden Pabelan bermula ketika mencintai “putri larangan”, Gusti Sekar Kedhaton, yang merupakan putri Kanjeng Sultan Hadiwijoyo Pajang. Walaupun Sang Sekar Kedhaton sudah melabuhkan cintanya kepada Sang Raden Pabelan, tapi cinta yang bertaut itu tak terbalaskan dengan kebahagiaan, melainkan harus berakhir tragis dengan tewasnya Raden Pabelan ditangan sang paman atas perintah Sultan Hadiwijoyo. Singkat cerita, mayat Raden Pabelan dibuang ke Kali Laweyan dan nyangkrah atau tersangkut dikali di Desa Sala. Oleh sesepuh Desa Sala, yakni Ki Gedhe Sala, mayat tersebut dirawat dan dimakamkan selayaknya didaerah dimana mayat itu ditemukan. Oleh warga sekitar, daerah penemuan mayat Raden Pabelan disebut bhatangan yang berarti bangkai. Hingga jaman Keraton Solo bahkan sampai sekarang pun, gapura besar peninggalan Susuhunan Paku Buwono X di daerah Raden Pabelan dimakamkan juga disebut Gapuro Bhatangan

Diskusi dan cerita singkat itu tak terasa membawa langkah kami menuju Balai Agung dikawasan alun-alun lor atau utara Keraton Surakarta. Sudah lama saya penasaran dengan gedung yang masih mempunyai tegel lantai klasik itu. Kesempatan siang itu kami manfaatkan untuk mblusuk kedalam Balai Agung yang masih menjadi satu konsep dengan alun-alun lor Keraton Surakarta Hadiningrat. 
 
Balai Agung, tempat kerajinan wayang kulit

Balai Agung tampak dari depan
Gedung kuno berkaca ini terletak di sebelah timur Pasar Cinderamata Solo. Letaknya yang berada dibawah pohon beringin besar dan terkesan tertutup membuatnya jarang dilirik orang yang mampir ke kawasan pasar souvenir Kota Solo. Sementara kami begitu terkagum, ketika memasuki area dalam gedung. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa gedung ini merupakan sentral pembuatan wayang kulit dan gamelan, serta tempat belajar seni pedhalangan yang dilakukan setiap malam Minggu Legi dalam hari pasaran Jawa.   

Siang itu, kami bertemu dengan Pak Sukirdi dan rekannya. Mereka berdua merupakan seniman pembuat wayang kulit di Balai Agung. Tak tanggung tanggung, mereka sudah hampir 25 tahun menekuni kemahirannya membuat seni wayang kulit. Walaupun tak melihat proses pemahatan wayang kulit, tapi kami masih berkesempatan melihat proses pewarnaannya. Kami “ganggu” kerja Pak Sukirdi dengan rasa penasaran mengenai proses dan tahapan pembuatan wayang kulit.

Proses pembuatan wayang diawali dengan memilih kulit yang akan dijadikan wayang. Untuk kulit biasanya memakai bahan dari kulit sapi, kerbau, dan kulit kambing. Tapi untuk bahan wayang kulit di Balai Agung spesialis menggunakan kulit kerbau, yang dipasok dari wilayah Pocung Yogyakarta, dan dikirim kepada pemesan dalam bentuk lembaran-lembaran kering. 

Setelah proses pemilihan bahan, tahap selanjutnya adalah menggambar pola dasar tokoh wayang yang akan dipahat. Ada perbedaan bentuk antara wayang gagrak Sala dan wayang gagrak Jogja, meski mempunyai bentuk dasar yang sama. Untuk wayang gagrak Sala biasanya cenderung berpostur kurus kecil, sedangkan wayang gagrak Jogja berpostur agak gemuk dan cenderung lebih besar dari wayang Sala. 

Proses selanjutnya adalah merendam kulit yang telah diberi pola dasar kedalam air biasa selama kurang lebih seminggu. Setelah perendaman, kulit dipenthang atau dilebarkan diatas papan dan diangin-anginkan tanpa paparan sinar matahari. Setelah bahan kulit benar-benar kering, proses selanjutnya adalah memahat pola yang sudah digambar sebelumnya. Perlu kejelian dalam memahat wayang, mengingat pernak-pernik seni ukir wayang yang sangat detail sesuai pakem yang sudah ada, yakni pakem Keraton Sala.  
Proses menthang

Proses memahat, wayang dalam bentuk pahatan

Persiapan pengecetan wayang

Setelah pola wayang sudah terukir lengkap, proses akhir pembuatan seni tradisi ini yaitu pewarnaan atau pengecatan sesuai karakter tokoh dan penambahan aksen warna emas pada wayang. Untuk warna emasnya sendiri terdiri dari 3 jenis warna, yakni emas prodo, emas grenjeng, dan emas bron berupa cat keemasan.  

Tahap pengecatan atau pemberian warna pada wayang

Pemberian aksen keemasan pada wayang menggunakan emas grenjeng

Emas grenjeng, dipakai untuk penambahan aksen wayan kulit

Pak Sukirno yang sudah katam dengan seni pembuatan wayang kulit ini bercerita, bahwa setiap tokoh wayang mempunyai karakter dan detail ukir sendiri-sendiri. Ia mencontohkan, untuk tokoh raja biasanya menggunakan pola ukir lereng dan parang, sedangkan untuk punakawan menggunakan pola ukir sederhana berupa kawung dan lain sebagainya. Untuk pembuatan satu tokoh wayang berukuran kecil seperti tokoh Puntadewa dan Janaka, biasanya dikerjakan selama 5 hingga 7 hari, sedangkan untuk tokoh berperawakan besar seperti raksasa dan gunungan memerlukan waktu  sekitar seminggu hingga dua minggu. Untuk harga satu buah wayang kulit juga variatif, berkisar antara 350 ribu hingga 3,5 juta, tergantung ukuran. Saat ini wayang Balai Agung dipesan untuk kebutuhan pertunjukan wayang kulit dan sebagai souvenir khas Kota Budaya, Solo.

Wayang Kulit jadi
 
Wayang Kulit jadi

Perjalanan siang itu kami akhiri dengan rasa puas bisa mblusuk ke “Balai Wayang” Solo. Sudah saatnya Wong Solo dan orang luar Solo tahu, bahwa tidak hanya pertunjukan wayangnya saja yang masih hidup di kota ini, seni kerajinannya pun juga masih menunjukkan “denyut nadi” yang senantiasa terus berdetak.

Salam budaya, salam Blusukan Solo   

Jumat, 29 November 2013

T-K-S : Kuliner Langka Jokteng Kraton

Terlahir dan berkesempatan hidup di Solo merupakan suatu kebanggan tersendiri bagi saya. Bangga, sebab Kota Jawa bernama Solo ini sudah begitu akrab dikenal di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Menjadi “Wong Solo” membuatku begitu dekat dan mengenal kota ini. Hampir semua tempat di Kota Solo menarik untuk dikunjungi, bahkan gang-gang sempit dalam kampung yang jarang dijamah orang pun begitu eksotis untuk dinikmati. 

Berawal dari hobi “Blusukan Solo”, saya bersama rekan mblusuk rela berpanas bercapek ria menyusuri dan mencari keunikan-keunikan baru Kota Solo yang jarang orang tahu dan jarang pula terekspos. Bermodal ingatan memori “nostalgia” semasa SMA yang masih tersimpan rapi diotak, kesempatan mblusuk kali ini tak terlewatkan untuk mengenalkan satu keunikan kuliner kota yang sudah saya kenal sejak SMA dulu kepada rekan saya. Kalau orang sudah sangat kenal dengan cabuk rambak, sego liwet, ledre , intip, dan serabi yang menjadi ikon kuliner Solo, tapi mungkin orang tak kenal dengan satu kuliner camilan bernama T-K-S. Nah, apa itu T-K-S?

T-K-S merupakan singkatan dari Telo-Kacang-Sambel, terdiri dari telo atau ubi yang diiris tipis seperti keripik dan kacang yang digoreng, kemudian dicampur dengan sambal olahan dari bumbu berupa cabai, bawang, garam, dan gula jawa. Sekilas mirip sambal brambang asem, tapi sambal T-K-S terlihat lebih kental. Penyajiannya pun unik, telo dan kacang ditempatkan diatas pincuk atau bungkus kertas dan ditaburi sambal diatasnya. Rasa gurih telo dan kacang semakin nikmat dicampur dengan pedasnya sambal T-K-S. Harganya pun relatife murah, cukup dengan 3000 rupiah untuk bisa menikmati sepincuk T-K-S. 


T-K-S : Telo-Kacang-Sambal
 
Telo atau Ubi goreng iris tipis
Kacang Goreng
Sambal T-K-S

Nah, kesempatan siang itu, akhirnya saya manfaatkan bersama rekan untuk singgah sebentar diwarung T-K-S. Masih hafal dalam ingatan saya, penjualnya adalah seorang embah-embah sepuh. Mbah Amiatun namanya, yang akrab disapa Mbah Atun adalah penjual asli T-K-S yang setiap hari menggelar dagangannya diwarung yang terletak di Jokteng ( pojok beteng ) wetan Keraton Surakarta, tepatnya di Jalan Untung Suropati daerah Kedung Lumbu Pasar Kliwon Solo. Nyaris tidak ada perubahan warung Mbah Atun yang sederhana itu, sama seperti ketika saya masih SMA dulu, hanya ada tambahan berupa tenda MMT bertuliskan nama warung T-K-S.  

Warung T-K-S yang sederhana di Jokteng Wetan Keraton Surakarta
Tembok Baluwarti Lor Keraton dilihat dari Warung Mbah Atun

Mbah Atun juga masih terlihat seperti dulu, masih semangat dan cekatan, meski usianya tak lagi muda. Hal itu yang saya rasakan ketika masuk kewarungnya yang kecil siang itu. Berasa kembali ke masa-masa SMA dulu, keramahan Mbah Atun yang selalu menyapa hangat setiap pembelinya membuat saya selalu teringat dan kangen dengan keramahan, kesederhanaan, dan kebersahajaannya. 
 
Sangat bersahaja memang, sampai-sampai Mbah tidak mau difoto untuk diambil gambarnya.


ngapunten mengko ndak wong-wong pasar do ngerti – maaf kalau difoto, nanti orang-orang pasar pada tahu” kilahnya sambil tersenyum lebar.


 
Mbah Atun melayani pembeli
Mbah Atun dengan dagangannya, T-K-S

didahar mriki nopo dibungkus Nang – dimakan disini apa dibungkus Cah bagus” adalah sapaan khasnya setiap ada pembeli yang mampir kewarungnya. Kesempatan mampir kali ini pun tak saya lewatkan sia-sia bersama rekan untuk ngobrol dengan Mbah Atun, merekam jejak perjalanan Mbah Atun dengan T-K-S nya, dan ngobrol ringan seputar kehidupannya. 


Mbah Atun mulai bercerita awal berjualan T-K-S nya, yang bermula dari nama pemberian cucunya untuk camilan langka nan unik ini. Perempuan berusia 78 tahun itu sudah berjualan hampir 30 tahun. Mbah biasanya membuka warungnya jam 9 pagi, dan dagangannya sudah habis sebelum waktu dzuhur tiba. Pelangganya pun variatif, dari abang becak hingga orang-orang yang sekedar lewat dikawasan sekitar Keraton, Kedung Lumbu,dan jalan Supit Urang Keraton. Saya simak dengan seksama “dongeng” Mbah Atun sembari memperhatikan tangan tuanya yang masih lincah menggoreng irisan telo dan kacang ke dalam wajan. Usianya yang sudah sepuh ternyata tidak menghalanginya untuk terus bekerja dan menggeluti profesinya sebagai penjual T-K-S, meski sudah dilarang oleh anak dan cucunya yang menghendaki Mbah Atun istirahat dirumah. 


“Buat ngisi waktu Nang” katanya.


Mbah Atun juga bercerita, peralatan masak yang digunakannya merupakan peninggalan ibunya yang sudah bisa dipastikan berumur lebih dari setengah abad. Peralatan berupa tirisan itu memang sudah usang, tapi masih terlihat kuat untuk meniriskan gorengan berupa kacang dan telo-nya. 

Tirisan lawas peninggalan Ibu Mbah Atun

“Yaa, Alhamdulillah laris, telas – habis”, kata yang selalu Mbah Atun ucapkan sebagai bentuk rasa syukur kepada Gusti Pangeran yang sudah memberi rezeki. 


T-K-S hampir dipastikan langka, mungkin hanya Mbah Atun saja yang berjualan camilan ini, dan mungkin juga hanya ada di Solo. Meski tak setenar serabi, intip, dan camilan khas Solo lainnya, T-K-S bisa menjadi camilan baru yang layak “dibanggakan” sebagai makanan khas Kota Bengawan. Sederhana memang, tapi T-K-S selalu ludes diburu dan mampu membuat ketagihan para penikmat kuliner langka Jokteng Keraton ini. 


Perjalanan mblusuk siang itu kami akhiri dengan membawa sebungkus T-K-S sebagai camilan dalam perjalanan, sekaligus oleh-oleh untuk kami kenalkan kepada yang belum tahu telo, kacang, dan sambel nya Mbah Atun. 


Selamat mencoba dan salam Blusukan Solo

 

Senin, 29 Juli 2013

Mblusuk ke Utara Kota Solo

Terik matahari Minggu siang itu begitu menyengat. Kali ini aku benar-benar merasakan begitu dahsyatnya panas jalur khatulistiwa di Indonesia. Berbekal sepeda (pinjeman) yang lumayan bisa jalan, topi hitam kesukaanku, dan tas ransel ala-ala backpacker, aku mulai menyusuri jalanan dari arah Gondang Solo menuju kawasan Ngarsopuro di depan Puro Mangkunegaran
Kupacu sepedaku dengan penuh perjuangan, bermandikan keringat, plus berkejaran dengan waktu yang tak mau lagi berkompromi. Berat? Iya, panas? Iya, Lapar? So pasti, solanya pas lagi puasa bro. Tapi tak apalah. Panas siang itu kurasakan memang benar-benar membakar, dan meninggalkan jejak gosong dimukaku karena kepanasan. 

Setelah berjuang selama kurang lebih 15 menit, akhirnya sampai juga di starting tempat kita kumpul. 

…Welcome Ngarsopuro…

Kawasan Ngarsopuro Solo saat ini


Alhamdulillah, ternyata sudah banyak yang datang. Kuparkirkan sepedaku bersama sepeda-sepeda yang lain. Beberapa wajah tak asing aku temui siang itu. Mas mbak dengan “aksesoris lengkapnya” berupa kaos model polo warna biru, sebuah toa, dan tak ketinggalan spanduk warna biru bertulisan BLUSUKAN SOLO. Uniknya lagi, perjalanan kali ini ada tamu dari luar kota lho, jauh-jauh dari Ngayogyokarto Hadiningrat, adiknya Surokarto Hadiningrat, hanya untuk ikutan kegiatan Blusukan Solo, hebat -- Sugeng rawuh Bapak, sugeng rawuh Mas --

Siang itu, aku dan temen-temen Komunitas Blusukan Solo kembali mengadakan perjalanan mblusuk bertitle "Cerita Dari Oetara - Merangkai Roda Cerita di Utara Soerakarta”. Dari namanya saja sudah bisa tercium aroma arah perjalanannya mau kemana. Oetoro atau Untoro dalam Bahasa Kawi, yang sekilas mirip dengan kata Utara dalam Bahasa Indonesia. Orang Jawa kebanyakan sering menyebutnya Lor yang juga berarti utara. Ya, kali ini Komunitas Blusukan Solo akan mengadakan perjalanan ke tempat-tempat yang mempunyai nilai sejarah didaerah utara atau untoro Kota Solo. 

Sebelum gowes lebih jauh, kita dapat penjelasan awal bahwa tempat dimana kita berkumpul yakni Ngarsopuro, yang mulanya dulu adalah sebuah pasar yang menjual barang-barang guna mensuplay kebutuhan Puro Mangkunegaran. Sejenak keinget masa lalu dimana tempat ini awalnya bernama Triwindu, dan masih terekam utuh dalam memori ingatanku, ketika ibu mengajakku makan nasi rawon di pojokan Pasar Triwindu beberapa tahun lalu, lebih tepatnya 17 tahun yang lalu -- wah jadi merasa tua, tak apalah yang penting jiwa masih muda, dan emang masih muda *halah --

Puro Mangkunegaran Solo

Semua peserta yang telah bersiap satu persatu mulai bergerak dengan sepedanya masing-masing. Bertolak dari Ngarsopuro, perjalanan berlanjut melewati tembok keliling Puro Mangkunegaran sampai belakang Puro hingga akhirnya tembus Kampung Kebalen. Ya, Kampung Kebalen yang konon menurut salah satu cerita, tempat ini dulunya adalah kampungnya orang-orang Bali yang tinggal di Solo. 
Sebelum melewati Kampung Kebalen, kami sebenarnya sempat melintas di depan salah satu hotel di Solo yang mempunyai bangunan khas asli Jawa yakni Joglo. Hotel di daerah Kusumoyudan itu dulunya merupakan sebuah nDalem kagunganipun KPH Kusumoyudo, salah satu putra Sri Susuhunan Pakoe Boewono X, sehingga disebut nDalem Kusumoyudan. Nah menurut cerita eyang-eyang dulu, awalnya daerah Kebalen dan sekitarnya juga disebut wingking (belakang) nDalem Kusumoyudan. Sebenarnya tidak hanya bangunan itu saja yang kami lewati, sebab masih banyak bangunan-bangunan kuno di sekitar Kampung Kebalen yang mempunyai nilai sejarah, termasuk Lojen Wilhelmina yang sekarang menjadi Kantor PM dan Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan.

Keluar dari Kampung Kebalen, gowes berlanjut melewati Pasar Burung Widuran, dan Kampung Kepatihan. Sempat berpikir mampir juga ke Masjid Kepatihan yang juga merupakan peninggalan sejarah Kota Solo. Sebab kalau dilihat dari arstiketur dan detail ragam hiasnya, kelihatan banget kalau masjid model Jawa ini juga menjadi saksi sejarah Kota Solo selama ratusan tahun. Masjid yang kini bernama Masjid Al Fattah masih berdiri kokoh sebagai tempat ibadah Umat Islam. Sempat beberapa kali ibadah di tempat itu. Kesan sejuk, megah, adem ayem, khusyu, dan njawani selalu mewarnai setiap kali masuk untuk sholat di masjid itu. 

Kampung Kepatihan menjadi destinasi berikutnya. Namun belum aku jumpai nuansa-nuansa kediaman atau nDalem Pepatih Dalem Nagari Surokarto Hadiningrat ini. Yang tersisa hanyalah lengkungan-lengkungan diatas jalan besar utama menuju Gedung Pengadilan Solo. Saya bisa jamin, lengkungan-lengkungan yang sudah berkarat itu merupakan peninggalan yang tersisa dari kemegahan nDalem Kepatihan, sebab aku masih mempunyai beberapa dokumentasi foto-foto Kepatihan Tempo Doeloe, lengkap dengan foto Pepatih Dalem terakhir, Kanjeng Adipati Sosrodiningrat IV. Foto-foto itu saya dapat dari sebuah museum di Belanda, dan kini rapi menjadi koleksi pribadi. 

Pepatih Dalem Kanjeng Adipati Sasradiningrat (Sumber : Tropen Museum)
 
Perhatikan dengan detail lengkung gapuro, hanya itu yang tersisa dari nDalem Kepatihan (Sumber : Tropen Museum)
 
Gapuro nDalem Kepatihan, terlihat beberapa prajurit Kepatihan sedang kirab      (Sumber : Tropen Museum)

Jalan daerah Kepatihan itu akhirnya tembus di depan SMKI, dan perjalanan kami akhirnya berhenti sejenak di sebuah rumah kuno tersembunyi diantara bangunan-bangunan bertembok tinggi dilengkapi gerbang besi yang kokoh. Aku tidak menyangka, ternyata masih ada bangunan yang nyempil di antara bangunan-bangunan angkuh di sekitarnya. Masuk lebih kedalam, kami jumpai sebuah rumah kuno yang berada tepat di belakang gedung-gedung sekolah SMKI dengan arsitektur dan ragam ukir yang khas. Rumah dengan dominasi warna hijau itu mempunyai 3 pintu yang bercat senada. Diatas ketiga pintu itu dipajang 3 buah foto, yakni Susuhunan Pakoe Boewono IV berada di tengah, Susuhunan Pakoe Boewono IX di sebelah timur dan KRMT Darmonegoro di sebelah barat, yang menurut informasi beliau adalah sang empunya rumah. Tepat di depan ketiga pintu juga terdapat meja antik besar, kursi goyang, dan sebuah jam dinding kuno.

Puas menyambangi rumah itu, kami melanjutkan perjalanan kearah panggung di daerah Jebres, dengan melewati beberapa tempat yang menurut cerita eyangku juga mempunyai sejarah sinuhun-sinuhun jaman dulu, diantaranya Panti Sari yang sekarang menjadi gedung pertemuan, Kampus Psikologi Mesen, dan Stasiun Jebres Solo. -- Mungkin lain kali ya temen-temen Komunitas Blusukan Solo, kita eksplor lebih jauh mengenai tempat-tempat itu --

Bersepeda berurutan, kami melintasi Perempatan Panggung yang terkenal sangat ramai dan padat.  Dengan mengayuh pelan, akhirnya kami berhasil menyeberang dan masuk gang didaerah Kampung Bibis Wetan menuju destinasi berikutnya, yakni Kampung Kandang Sapi. Dari namanya saja mungkin sudah bisa ditebak asal muasal kampung itu. Nah, masih menurut sejarah dan cerita-cerita eyang, tempat itu dulunya adalah tempat untuk ngguyang atau memandikan sapi milik keraton. Hingga akhirnya nama kampung ini tercipta. Hal ini ternyata juga dibuktikan dengan salah sau peninggalan yang mendukung keberadaan Kampung bernama Kandang Sapi ini. Aneh memang nama kampung satu ini, tapi begitulah adanya J . Nah salah satu bukti sejarah yang kami datangi adalah salah satu sendang dibawah pohon tua berpostur tinggi rindang berakar tebal dan besar, berada tepat di sebelah timur Masjid (-yang saya lupa namanya-) bernama Sendang Penganten. Dan akhirnya kami juga ketahui bahwa pohon besar itu bernama Pohon Kepoh


Sendang Penganten, tempat sapi-sapi keraton dimandikan


 
Pohon Kepoh menaungi Sendang Penganten
 
Keadaan Sendang Penganten, airnya tampak berwarna hitam

Kesan pertama melihat sendang ini adalah : nggak nyangka, di tengah Kota Solo yang sudah sedemikian rupa, ternyata masih ada sendang semacam ini. Bener-bener kagum ama Solo, kagum juga ama Komunitas Blusukan Solo.

Kembali ke sendang. Sebetulnya tidak banyak yang kami eksplor dari tempat itu, sebab jujur aku kurang bisa mendengarkan penjelasan dari narasumber atau Pak RT mengenai tempat itu, soalnya mungkin bapaknya lupa mencet salah satu tombol toa, hingga suaranya kagak kedengeran – hehehe -- Atau mungkin aku yang nggak memperhatikan penjelasan beliau -- maaf ya pak ^_^V --

Yang saya ketahui, sendang ini ada dua, yang satunya disebelah utaranya konon buat memandikan sapi yang betina, makanya agak tertutup. -- Waahh ternyata sapi malu juga ya mandi bareng ama temen-temenya -- 

Nah, sendang itu kini berair hitam keruh, dan nampak kurang terawat, meskipun sudah ada tulisan himbauan mengenai menjaga kebersihan sendang dan larangan untuk membuang kotoran dilokasi sendang. Sempat melongok melihat ke dalam sendang, ternyata ada ikan lele nya lho – Hahahaha, dan kenapa nggak dirawat ya, kalo dirawat kan bagus bisa digunakan sebagai mata air jernih dan menarik *alah --

Usai mengunjungi Sendang Penganten, kami melanjutkan destinasi terakhir perjalanan kali ini untuk menuju Astana Oetara didaerah Nayu. Bersepeda menuruni jalan yang agak njojrok (bhs.Jawa) atau menurun, kami melewati Pasar Mojosongo ke barat. -- Jujur, baru kali ini dan untuk pertama kalinya saya melewati tempat dan jalan ini -- . Sepanjang perjalanan terlihat padat rumah-rumah berderat, dan sekali melintasi rel tanpa berpalang pintu di daerah sekitaran Ngempak dan Nusukan

Ibu Yamti mulai menceritakan sejarah keberadaan Astana Oetara

Lelah gowes, akhirnya sampai juga di finish perjalanan ini. Ya, Astana Oetoro, astana yang dalam Bahasa Indonesia berarti pemakaman atau kuburan, dan Oetoro yang berarti utara.  Jadi, Pemakaman di sebelah utara. Nah, Astana Oetoro ini adalah sebuah kompleks pemakaman dari Sri Paduka Mangkoenegoro VI ((1896—1916), beserta para kerabat, garwa prameswari, garwa ampil, dan para putranya, termasuk juga pepatihnya. 

Tiba di depan kompleks pemakaman, gerbang besi dengan lengkung diatas menyambut kami dengan pintunya yang sudah terbuka lebar. Gerbang ini juga dikelilingi tembok batu bercat putih. Tepat diatas pintu gerbang besi terdapat tulisan aksara jawa yang jujur aku nggak bisa baca :) , dan angka tahun 1928.
Memasuki kompleks lebih dalam, terdapat dua bangunan besar, sebelah timur terdapat pendhopo besar bercat krem sebagai tempat menerima tamu dan singgah sementara. Sedangkan bangunan sebelah barat adalah  sebuah masjid lengkap dengan tempat wudhunya. Riuh suara anak-anak TPA masjid membuat kompleks pemakaman yang identik sepi dan seram berubah menjadi keramaian penuh keceriaan. Tepat lurus di jalan masuk berada di halaman, terdapat sebuah patung bergaya eropa, dan sebuah patung yang belum aku ketahui siapa dia. 

Terlihat di sekitar kompleks, pepohonan besar yang rimbun meneduhi kami saat kami disambut oleh seorang abdi dalem, yang belakangan saya ketahui bernama Ibu Yamti, dan beliau termasuk mantu buyut dari Sri Paduka Mangkoenegoro VI. Sambutan penuh keramahan dengan memulai menceritakan sejarah keberadaan makam yang konon sudah ada sejak 1870 itu. Ibu Yamti bercerita, bahwa kompleks makam ini diarsitekturi oleh Ir. Soekarno yang dikenal sangat dekat dengan kerabat Puro Mangkunegaran. 

Ada satu pertanyaan yang mungkin menjadi pertanyaan buat semua peserta Blusukan. Nah, kalau Adipati yang bertahta di Mangkunegaran biasanya dimakamkan di Pasareyan Girilayu di Bukit Mengadeg Matesih Karanganyar, kenapa Sri Paduka Mangkoenegoro VI dimakamkan disini? Akhirnya pertanyaan itu terjawab dengan penjelasan Ibu Yamti, bahwa alasan kenapa Eyang Mangkoenegoro VI dimakamkan di area ini, karena ingin dimakamkan ditengah kota, agar bisa dekat dengan kawulo atau rakyatnya. Luar biasa, andai saja pemimpin-pemimpin negeri ini mencontoh sosok Paduka Sri Mangkoenegoro VI -- sambil menghela napas panjang, prihatin apa kecapekan yaa --

Cungkup Makam di area paling tinggi, tempat disemayamkannya Sri Mangkunegoro VI
 
Kompleks Makam tampak dari luar
Nah, Sri Mangkunagoro VI lahir pada Jumat Pon 17 Rejeb Wawu 1785 (13 Maret 1857 Masehi) dengan nama GRM Soejitno, putra keempat Sri Mangkunagoro IV dengan permaisuri. Gelar KPA Dhayaningrat disandangnya saat berusia 17 tahun (29 Agustus 1874) dan naik takhta pada Sabtu Legi, 15 Jumadilakir Jimakir 1826 (21 November 1896 Masehi).

Sri Mangkoenegoro VI sebenarnya tidak berhak atas takhta Pura Mangkunegaran. Tapi karena putra mahkota ketika Sri Mangkunagoro V  saat meninggal masih kecil, kekosongan takhta itu akhirnya beliau duduki sementara. Nah, ketika putra mahkota telah cukup usia dan dirasa mampu, atas kehendak sendiri dia turun takkta pada Selasa Kliwon, 3 Mulud Je 1846 (11 Januari 1916 Masehi) dan ambegawan sebagai Satria Pinandhita di Kota Surabaya hingga meninggal 24 Juni 1928.

Setelah mendapat penjelasan, kami dipersilahkan menengok kompleks makam yang memang berada di area agak tinggi dari sekitarnya, sebab sebelum menjadi makam, areal itu memang konon sebuah bukit yang terletak di utara Kota Solo, dekat Jembatan Kalianyar dan Terminal Tirtonadi, termasuk wilayah Kelurahan Nusukan, Banjarsari, Solo. Gerbang menuju makam terbuat dari kayu dan bercat warna kuning dan hijau. Lebih kedalam lagi terdapat beberapa makam lagi, yakni makam beberapa patih Sri Mangkoenegoro VI, abdi dalem, dan kerabat lainnya. Naik beberapa anak tangga, sampailah pada sebuah bangunan utama atau cungkup dan paling tinggi diantara bangunan disekitarnya. Inilah makam Sri Mangkoenegoro VI beserta garwa prameswarinya. Depan cungkup sebelah kanan dan kiri tepat naik beberapa anak tangga tadi terdapat makam garwa ampil dan para putro. Sepi, tenang, dan terlihat sederhana kompleks makam ini.
Makam putra dan kerabat, terletak disebelah timur tangga menuju makam utama
Makam para garwa ampil
Setelah meliaht kompleks makam, kami singgah ke pendhopo sambil menunggu bedug Maghrib berkumandang untuk buka puasa. Mengisi waktu jelang Maghrib, aku dengan beberapa temen sempet melihat dan mengorek-orek lemari kuno di pendhopo yang terdapat beberapa macam surat dan file usang yang sudah berubah warna menjadi coklat karena usia. Jujur kami tidak bisa mengeja apalagi membaca diantaranya, sebab selain berbahasa londo alias Belanda dan tulisan jawa, tulisan tersebut memang sudah agak buram dan tulisannya ada yang hilang. -- Cuma mbatin : sungguh malang kertas-kertas sepuh ini, kenapa nggak dirawat yaa, padahal bagus lho *alah -- 

Kartu undanga tempoe doeloe, berbahasa Belanda. Tapi yang pegang bukan orang Belanda. hehehe
Foto-foto lama yang masih tersimpan di pendhopo kompleks makam
Detik-detik menjelang buka, kami sudah mulai merangsek untuk memilih beberapa makanan yang sudah tersedia dimeja. Kolak pisang, teh anget, intip, ledre, dan tak ketinggalan nasi plus lauknya garang asem lengkap dengan karak. Jamaaaaaaaahhh, serbuuuuuu……. -- Pas banget ama suara azan yang berkumandang di masjid depan -- Makanan unik kali ini adalah ledre intip dan garang asem, yang konon merupakan makanan favorit Sri Mangkoenegoro VI.  -- Waaahhh berasa jadi bangsawan niii alias buangsane tangi awan.. Buahahahahahah -- 

Setelah puas berbuka, sejenak kami menyempatkan sholat di masjid kompleks pemakaman. Masjid sederhana dengan dominasi warna hijau khas Mangkunegaran itu ramai sekali dengan para jamaah yang kebanyakan anak- anak TPA beserta guru-guru ngajinya. Beberapa diantaranya terlihat sangat galak karena perhatian sama adik-adik TPA yang sangat ramai bak pasar tumpah, hanya untuk mengingatkan agar adik-adik TPA nya diam dan anteng selama berada di dalam masjid -- Iya-iya mbak, aku kan meneng to, jangan dimarahin ya  -- 

Usai sudah Sholat Maghrib dilaksanakan, akhirnya kami sudahi perjalanan kali ini dengan berfoto bareng temen-temen Komunitas Blusukan Solo  -- *tetep, 1 - 2  -  3 jepreeeet …. Wey uwis, Bubar, bubar, bubar.. -- Akhirnya sesi foto menutup perjumpaan sekaligus perjalanan mblusuk kali ini. Puas rasanya perjalanan hari ini. Satu persatu peserta mulai meinggalkan kompleks makam  -- bukan karena takut lho ya -- untuk pulang ke rumah masing-masing. Ada yang jurusan Manahan, ada yang jurusan Pajang, Cemani, dan ada yang juga deket dengan lokasi yakni daerah Sumber -- Deket memang, tapi sudahlah --
 
Yang  penting sudah dapat cerita baru dari wilayah utara Solo. Capek? Iya, pegel? Iya, lapar lagi? Iya *eh…. Tapi nggak papa, lelah ini sudah terbayar dengan ledre intip berbungkus tas kresek untuk dibawa pulang *eh… Wakakakaka


Rohmat For "Komunitas Blusukan Solo”



Minggu, 16 Juni 2013

Eyang, Balekambang Kini Telah Berubah


Berjalan lurus ke arah barat dari Jl.RM.Said Solo, kaki ini mulai menyusuri Jalan Balekambang. Sepanjang jalan dalam perjalanan ini, masih terlihat beberapa pepohonan tua, yang berderet rapi di sisi utara dan selatan jalan. Saya katakan tua, sebab terlihat dari batangnya yang mulai rapuh termakan oleh jaman. Hanya satu pohon yang kukenali dalam gelapnya malam ini, ya, pohon kenari. Sebab pohon ini terlihat jelas di pagi hari, saat saya sempat melewati jalan ini beberapa waktu lalu. Terlihat, hilir mudik kendaraan mulai ramai, menunjukkan geliat antusiasme warga masyarakat untuk melihat pertunjukan malam itu. Langkah sudah mulai terhenti, lantaran depan gerbang besar berukir khas Jawa mulai penuh sesak dengan kendaraan bermotor yang mengantri karcis parkir. Gerbang besar itu seolah ramah menyambutku, juga menyambut tamu-tamu yang sudah mulai masuk.

Bulan temaram semi purnama malam ini terlihat cantik diatas sana, seolah memberi cahaya ”tambahan” untuk lighting area open stage Balekambang ini. Ya tepat hari ini, pergelaran wayang serial Ramayana kembali digelar untuk kesekian kalinya. Memang, Pemkot Solo mencoba kembali menghidupkan kesenian-kesenian tradisional Kota Solo, salah satunya yakni Sendratari Ramayana seperti malam ini. 

Area Open Stage Balekambang, tempat digelarnya Sendratari Ramayana


Area Open Stage Balekambang pagi hari
Tribun open stage mulai penuh dengan para penonton. Sudah terlihat lampu mulai menyala, para niyaga atau penabuh gamelan sudah bersiap, dan terlihat juga para penari bersiap memulai perannya masing-masing. Dua MC laki-laki dan perempuan mulai  membuka pergelaran sendratari Ramayana bertitel “ Anoman Obong” malam kali ini. Diawali dengan tari pembuka, yakni tari Pang Pung yang diiringi Gending Pang Pung, yang konon merupakan gending besutan dari Ki Narto Sabdo. Warna warni kostum para penari semakin menambah suasana pertunjukan semakin meriah. Pergelara dilanjutkan dengan penampilan kedua, yakni Tari Angsa, persembahan anak-anak dari Sanggar Tari Metta Budaya.  Enam anak menggunakan kostum putih-putih dengan aksesoris ala angsa, terlihat menari dengan lincahnya. 

Pergelaran semakin menarik, decak kagum para penonton yang bertepuk tangan semakin memecah keheningan Taman Balekambang yang konon dulu angker. Penonton semakin merangsek memenuhi tribune open stage. Tapi tidak mengapa, berjejal dengan penonton lain, tak membuat saya kehilangan momen mengabadikan setiap gerak para penari. Riuh rendah, sorak sorai penonton membelah kesunyian taman para Gusti Mangkunegaran ini. 

Tak lama berselang, pergelaran yang ditunggu sudah mulai, sendratari tari bertitel “Anoman Obong” malam ini mengisahkan perjuangan seorang kesatria berwujud kera putih bernama Anoman, dalam mengemban misi menyelamatkan seorang istri dari kesatria agung Prabu Ramawijaya, yakni Dewi Sinta. Dikisahkan sebelumnya, Dewi Sinta diculik oleh seorang raja raksasa bernama Prabu Rahwana dari Alengka untuk diperistri. Namun Dewi Sinta menolak, hingga akhirnya ia pun dikurung di Taman Argosoka. Penderitaan Sang Dewi pun tergambar jelas dari setiap adegan yang ditampilkan, bagaimana Prabu Rahwana bersikeras dan memaksanya untuk mengikuti keinginannya. Namun sekuat apapun Rahwana membujuknya, tetap saja Sang Dewi kuat juga menolaknya. Bahkan penolakan tersebut dibantu juga oleh abdi kinasih dari Alengka, Trijatha. 

Kisah berlanjut, dalam pencarian menemukan Dewi Sinta, sang suami yakni Prabu Ramawijaya bertemu dengan Anoman “Sang Dutha”. Singkat cerita, akhirnya Anoman pun berhasil memasuki Taman Argosoka, tempat dimana sang dewi berada. Dengan petunjuk dari Prabu Rama, akhirnya Dewi Sinta tahu dan percaya, bahwa Anoman diutus untuk menyelamatkannya. Namun, misi penyelamatan tersebut belum berhasil, karena diketahui oleh para prajurit Alengka. Pertempuran tak terelakkan. Adegan pertempuran menegangkan, kadang berasa agak kendor dengan selingan banyolan-banyolan lucu dalam peperangan. Gelak tawa para penonnton pun tak terbendung, berselang dengan riuh tepuk tangan.
Pertempuran semakin ganas, hingga Anoman akhirnya kalah dan berhasil ditangkap. Para prajurit Alengka berusaha menaklukkan Sang Anoman, dengan cara membakarnya. Mereka mulai mengumpulkan kayu bakar dan mulai menyalakan api. Api terlihat mulai mengepung tubuh Anoman yang diikat pada sebuah tiang. Disaat api mulai membesar, disaat itulah puncak kemarahan Anoman mencapai klimaks. Dengan kesaktiannya, Anoman mampu terlepas dari ikatan tali, dan langsung memporak porandakan kayu bakar dengan api yang sudah membesar itu. Tampaknya “Geger Ngalenkodirojo Awal” sudah dimulai, para prajurit Alengka lari tunggang langgang dengan aksi Sang Duto itu.

Begitu dramatis dan spektakuler pertunjukan malam ini. Namun sayang, berhasilnya Anoman terlepas dari kobaran api tersebut menjadi ending dari pertunjukan kali ini. Semakin riuh tepuk tangan dan sorak sorai dari penonton, menandakan Pergelaran Sendratari Ramayana bertitel “Anoman Obong” sudah berakhir. Berangsur, banyak penonton berhamburan ke tengah stage untuk berfoto bersama para pemain. Namun tak sedikit para penonton yang langsung beranjak pulang dengan meninggalkan kesan yang wow. Mungkin termasuk saya.

Ini yang menjadi asal muasal Balekambang, dimana terdapat Bale atau tempat yang seolah-olah mengapung / mengambang. Lokasi : Partini Tuin
Dalam perjalanan pulang, kembali saya menyusuri jalan lurus Balekambang ini dengan sedikit “beban” pikiran. Saya mencoba mengurai “beban” pikiran itu, dan teringat cerita eyang saya dulu mengenai Balekambang. Menurut cerita eyang-eyang, “Balekambang jaman dhisik kuwi wingit (angker), okeh wit wit gedhe, lha nggone poro ratu dhisik ki mesti wingit”. Beliau lalu juga berkisah “ jaman ndhisik wong yen meh nonton kethoprak kuwi mbrobos, tur ndelok soko pager kawat, mulane dijenengi ndelok soko kawatan. Yen pas ditakoni petugase jogo karcis, kondo lha mboten gadhah arto kok pak”
Salah satu sudut di Taman Balekambang Solo - Partinah Bosch

Cerita itu begitu hafal saya ingat, namun agaknya cerita eyang-eyang dulu itu seolah tenggelam oleh jaman. Ya, jaman yang telah berubah membuat “keangkeran” Taman Balekambang berubah menjadi “keramahan”. Tak ada lagi kewingitan, tak ada lagi penjaga karcis masuk itu, dan tak perlu lagi mbrobos hanya untuk menonton pertunjukan. Cerita panjang akan Balekambang jaman itu sudah berlalu seiring dengan langkah yang melaju untuk pulang..